Mahasiswa dan Pengabdian #2

Posted: 19 Juni 2011 in mahasiswa perjuangan

“urgensi misi pendidikan tinggi kedepan adalah memperbaiki tatanan moral masyarakt, pendidikan tinggi harus memandang tatanan moral sebagai bagian dari mata rantai usaha pendidiakn bagsa , pada hakekatnya merupakan proses regenerasi moral yang luhur.” Hal ini masih saya kutip dari http://www.dikti.go.id/ yang merupakan website resmi dari instansi yang mengurusi masalah perguruan tinggi di Indonesia.

Sungguh erat hubungan dari urgensi pendidikan di atas terhadap poin ketiga dari tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Sungguh sebuah proses panjang yang normalnya empat tahun untuk mendidik seorang mahasiswa tidak aka nada manfaatnya jika poin ketiga ini tidak dilaksanakan oleh seorang mahasiswa.

Di sini saya akan berbagi sedikit pengalaman dengan sedikit berdiskusi dan mencermati dua orang yang memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Orang yang pertama aalah seorang aktivis dari sebuah organisasi di kampus dan orang kedua adalah seorang asisten laboratorium yang memiliki skill mumpuni di bidang engineering.

Berdiskusi masalah pengabdian, aktivis dari organisasi yang nilainya belum lebih dari 3.0 itu mengatakan bahwa pengabdian masyarakat harus lah dimulai sejak dini, misalkan melalui kegiatan bakti sosial, mengikuti kegiatan sosial politik di kampus, dan melakukan aksi di jalan, karena jika  menurut orang pertama ini kegiatan lab akan menghambat perjuangan mahasiswa. Sedangkan orang kedua mengatakan bahwa :untuk apa saya turun ke jalan? Membuat macet jalan, memangnya apa yg saya teriakkan didengarkan?  Lebih baik saya di lab, menambah skill di bidang engineering, dan setelah lulus barulah saya mengabdi, sudah punya banyak ilmu, sudah kerja, ada uang.” Kurang lebih itu yang saya dapat dari kedua mahasiswa ini.

Dari rekaman obrolan ringan dengan dua orang ini menjadi ganjalan tersendiri bagi saya, yang tentunya menghasilkan penilaian penialaian tersendiri. Bagi saya, jika kedua pendapat tersebut digabungkan dan diambil beberapa sisi dengan sedikit analisis akan menghasilkan hal yang luar biasa. Jika di telisik, pernyataan orang kedua tentang pengabdian mahasiswa sangatlah lucu, dia mengatakan akan mengabdikan dirinya bagi bangsa ketika sudah lulus, lalu apakah status seorang mahasiswa ketika sudah lulus dari perguruan tinggi masih bisa dikatakan sebagai seorang mahasiswa? Itu lah yang menjadi pertanyaan besar. Dan adakah korelasi antara hard skill yang sudah dipelajari dengan urgensi misi pendidikan kedepan seperti yang ada di atas? Memang ada, tapi sangat lah secara tidak langsung. Sedangkan pendapat orang pertama memang agak mengagetkan, dia mengatakan bahwa mahasiswa yang hanya beraktifitas kuliah dan riset di lab adalah mahasiswa yang sedang mendapat hambatan dalam berjuang. Padahal, jika dikembalikkan, apa fungsi orang pertama tersebut menjalani sebuah proses pendidikan  di perguruan tinggi khususnya dalam bidang engineering jika tidak menguasai bidangnya dalam engineering? Padahal di dalam poin pertama dan poin kedua tri dharma perguruan tinggi tercantum poin akdemis dan riset.

Maka dari sini dapat disimpulkan bahwa sebuah pengabdian dari seorang Mahasiswa harus lah dilakukan ketika dia benar benar berstatus sebagai mahasiswa, baik melalui kegiatan kegiatan bakti sosial, mengikuti kegiatan sosial politik di kampus, kegiatan lab yang tentunya kemudian di aplikasikan di masyarakat, bahkan melalui aksi di jalan. Jadi Mahasiswa aktivis lab pun tetap bisa berkontribusi bagi Bangsa dan Negara, begitu juga dengan Aktivis sebuah organisasi, masih tetap bsia berkontribusi bagi Bangsa dan Negara.

Karena pada hakikatnya mahasiswa adalah seorang insane akademis, pencipta dan pengabdi, dan merupakan seorang intelektual yang selalu melakukan perubahan kea rah yang lebih baik. Dimana Intelektual didefinisikan sebagai orang orang yang berilmu yang tidak pernah merasa puas menerima sebagaimana adanya (Coser dalam Abdul Hamid, 2010). Mereka selalu berpikir soal alternative terbaik dari segala hal yang oleh masyarakat dianggap baik. Mereka selalu mencari kebenaran yang batasnya tidak berujung (Shils dalam Abdul Hamid,2010).

Intelektual selalu bercermin dengan realitas yang ada yang tak sesuai dengan yang seharusnya. Mempunyai sebuah prinsip dan senantiasa berjuang demi dan sesuai dengan prinsip yang ia pegang.

Karena Menjadi Intelektual [itu] seperti ikan di laut lepas. Sepanjang masih bernapas, ia tak ikut menjadi asin seperti air laut. Intelektual, di manapun berada, nilai kebenaran yang dipegang tak ikut luruh. Jika memegang jabatan, tak malah melakukan “abuse of power.”

Oleh karena itu, mari berkarya bagi Bangsa dan Negara, tanpa mengesampingkan fungsi mahasiswa sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi bagi Bangsa dan Negara. Melalui disiplin ilmu apa pun yang kita kuasai dan dalami, karena dalam sebuah bangunan Negara, tanpa kedalaman pondasi yang sama, tanpa tinggi tiang yang sama, tentu akan menghasilkan Negara yang tidak kokoh.

Wallahua’lam bissawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s